Tulisanku

Pande_Eka .... Salam Panbers

Senin, 06 Februari 2017

Makna dan Filosofi Tumpek Landep Yang Tidak Boleh Dilupakan

tumpeklandep
 Bali merupakan sebuah pulau yang memiliki seribu pura, tradisi dan budaya yang saling mengisi dan melengkapi dengan ajaran agama Hindu. Bagi warga Bali yang mayoritas Hindu memiliki sebuah tradisi yang dinamakan Tumpek Landep. Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Hari raya Tumpek Landep sendiri merupakan rentetan setelah hari raya saraswati, dimana pada hari ini umat hindu melakukan puji syukur atas berkah yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati.

Makna Tumpek Landep

Hari raya tumpek landep jatuh setiap Saniscara/hari sabtu Kliwon wuku Landep, sehingga secara perhitungan kalender Bali, hari raya ini dirayakan setiap 210 hari sekali. Kata Tumpek sendiri berasal dari “Metu” yang artinya bertemu, dan “Mpek” yang artinya akhir, jadi Tumpek merupakan hari pertemuan wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, dimana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta Wara diakhiri oleh Saniscara (hari Sabtu). Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing, maka dari ini diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris.
Dewasa kini, senjata lancip itu sudah meluas pengertiannya. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda hasil cipta karsa manusia yang dapat mempermudah hidup seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer dan sebagainya. Benda-benda itulah yang diupacarai. Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh disalah artikan, dalam konteks itu umat bukanlah menyembah benda-benda teknologi, tetapi umat memohon kepada Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati yang telah menganugerahkan kekuatan pada benda tersebut sehingga betul-betul mempermudah hidup.

Filosofi Tumpek Landep

Dalam Tumpek Landep, Landep yang diartikan tajam mempunyai filosofi yang berarti bahwa  Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
Tumpek landep merupakan tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran – ajaran agama. Pada rerainan tumpek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur.
Menurut Dharma Wacana dari Ida Pedanda Gede Made Gunung, Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.
Jadi bisa disimpulkan menurut pendapat kami bahwa Pada Rahina Tumpek Landep hal yang paling utama yang tidak boleh dilupakan ialah hendaknya kita selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan kita dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan serta mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.

Jumat, 27 Januari 2017

Pande Bang

Pada zaman ini para pande yang datangnya bersama Sri Kesari Warmadewa berasal dari Indonesia berdiam berkelompok di empat tempat. Yaitu:
  1. kelompok pande yang berdiam di daerah Besakih dan sekitarnya.
  2. kelompok pande yang berdiam disekitar daerah Renon (badung) dan sekitarnya.
  3. kelompok pande yang mendiami pingiran Danau Tamblingan.
  4. kelompok pande yang tingal dipejeng.
Dari keempat tempat pande yang bermukim di Danau Tamblingan mendapat perlakuan istimewa karena jenis barang yang mereka hasilkan bersifat istimewa serta skill/kepandaiannya yang mereka sangal unggul. Ada keistimewaan lain pada mereka yaitu mereka dibebaskan dari segala pajak yang mestiya harus dibayar oleh penduduk.
Terpecahnya warga pande yang bermukim  di Danau tamblingan karena pada saat itu Raja Sri Tapolung yang bergelar ”Bhatara Cri Asta Asura Ratna Bumi Banten” menyatakan dirinya tidak lagi tunduk kepada kekuasaan Raja Jawa ( Majapahit ). Sehingga raja majapahit menghukum atas sikapnya, Raja Majapahit Sri Hayam Wuruk mengirim pasukan untuk menyerang Bali. Sasaran utamanya adalah warga Pande yang ada di Danau Tamblingan karena diangap senjata-senjata penguasa Sri Tapolung berada di daerah ini. Penduduk lainnya yang berada dipingiran Danau Tamblingan ikut melahirkan diri dan kebanyakan dari mereka menyembuyikan diri ke hutan sebelah barat danau (daerah Gobleg).
Penguasa Bali kemudian setelah Sri Tapolung yaitu Dalem Semara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir) yang memerintah Bali dari istananya di Gelgel merasa perlu untuk memanggil kembali para pande yang telah lari meningalkan danau Tamblingan agar kembali ke asalnya.
Demikianlah keadaan dari keempat kelompok pande Bang pada zaman Sri Kesari Warmadewa sampai zaman Pejeng. Keempat kelompok yang mengikuti Sri Kesari Warmadewa tersebut dinamakan pande bang termasuk didalam Pande Bangke Maong, alias Pande Tamblingan. Ada dolemik dalam masyarakat Bali setelah kehancuran kerajaan pejeng tentang nama Pande Bangke Maong. Julukan ini diberikan kepada kelompok pande yang kalah perang bahwa mereka mati nantinya mayatnya akan menjadi maong.
Demikian bencinya para penguasa baru kepada para pande sehinga nama Pande Bangke Maong menjadi momok/menakutkan bagi seluluh keluarga pande dan mereka menghindari dirinya disebut Pande Bangke maong.Penguasa akan membunuh pande yang benar-benar adalah keturunan Pande bangke Maong. Kemudian muncul semacam sanggahan halus dari para pande yang menyatakan bahwa pengucapan Pande Bangke Maong  sebenarnya adalah Pande Bang Kemaong (pande bang saja)

Warga Pande Dilarang Menggunakan Tirtha Sulinggih Lain?

Larangan memakai tirtha sulinggih lainnya adalahh bhisama keempat, adalah bhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala mengenai larangan menggunakan tirtha dari sulinggih lainnya. Larangan ini sama sekali bukan didasari oleh niat merendahkan atau melecehkan sulinggih dari keturunan yang lain (bukan warga Pande). Tetapi menyangkut beberapa hal prinsip yang harus dipahami oleh warga Pande. Warga Pande sangat menghormati dan memuliakan setiap sulinggih dari warga/soroh apapun beliau berasal. Bhisama itu berbunyi: 
"yan kita angupakara sawa, aywa kita weh aminta tirtha ring brahmana panditha. Ngong anugraha kita riwekas, samangda kita tan kanarakan".
Terjemahan :
Kalau engkau mengupacarai mayat, jangan meminta tirtha dari brahmana Pandita, aku peringatkan engkau agar engkau tidak sengsara di kemudian hari.
Selanjutnya; 
"mwah yan kita mayadnya suka mwang duka, aywa nurunakna tirtha brahmana. Nguni kawitan ta kita madiksa widhi krama minta nugraha ring paduka bhatara. Mangkana kengeta. Aja lali, weruhakna mwang sanak ira kabeh, kita kabeh aywa lupa ring aji dharma kapandeyan, aywa kita lupa ring kajaten". 
Terjemahan :
Dan lagi kalau engkau menyelenggarakan upacara yadnya yang bersifat suka dan duka, jangan nuhur tritha brahmana. Mengapa? Karena sejak dulu leluhurmu madiksa widhi krama, memohon panugrahan langsung kepada Ida Bhatara. Demikianlah, ingatlah selalu. Jangan lupa, beritahukanlah hal itu kepada seluruh keturunanmu kelak. Janganlah lupa pada Aji Dharma Kapandeyan. Janganlah lupa pada jati dirimu.
Melihat Bhisama di atas jelaslah bahwa penggunaan tirtha Sira Mpu Pande dikalangan warga Pande adalah untuk setiap upacara atau Panca Yadnya. Beberapa alasan warga Pande menggunakan sulinggih dari keturunan Pande atau lazim dikenal dengan Sira Mpu adalah sebagai berikut :
  1. Pemakaian Sira Mpu adalah penerusan tradisi leluhur yang telah berlangsung sejak jaman sebelum kedatangan Dang Hyang Nirartha ke Bali, jauh sebelum Beliau datang warga Pande telah memiliki sulinggih sendiri yaitu Sira Mpu. Tradisi itulah yang telah diwariskan dari genari ke genarasi, kendatipun pada saat jaya-jaya sistem kerajaan di Bali, banyak rintangan dan hambatan yang dialami oleh warga Pande, karena banyak warga desa yang melarang pemakain Sira Mpu oleh warga Pande; 
  2. Warga pande tidak menggunakan Sulinggih lain, karena ada mantra-mantra khusus yang tidak dipakai oleh Sulinggih lainnya, khususnya yang berkaitan dengan Bhisama Panca Bayu. Mantra-mantra yang tidak boleh dilupakan oleh warga Pande yang berhubungan erat dengan profesi Pande; 
  3. Warga Pande seperti warga/soroh lainnya di Bali, memiliki aturan tersendiri dalam pembuatan kajang kawitan. Kajang kawitan Pande hanya dipahami secara mendalam oleh Sira Mpu atau pemangku pura kawitan sehingga hanya merekalah yang berhak membuat kajang kawitan Pande; 
  4. Tata cara pediksaan di kalangan warga Pande sangat berbeda dengan tata cara pediksaan dikalangan warga lain, khususnya keturunan Dang Hyang Nirartha. Perbedaan ini sangat prinsip bagi warga Pande, di mana warga Pande melakukan pediksaan dengan sistem Widhi Krama.
Kalau dianalogikan, pelarangan penggunaan sulinggih lain, adalah seperti orang sakit mencari dokter. Kalau sakit gigi hendaknya dicari dokter gigi, jangan mencari dokter jantung atau lainnya. (oleh blog warga pande)

Nb : terkait Bhisama Keempat ini, bagaimana kalau di tempat kita tidak ada Sira Mpu? Apakah kita tidak jadi melakukan upacara? Menurut kami sekiranya dapat disesuaikan dengan situasi kondisi terkait upacara yang akan dilakukan. Penggunaan Sira Mpu ada baiknya tidak terlalu ngotot dijalankan apabila upacara dilakukan secara massal yang melibatkan banyak soroh atau wangsa lainnya, seperti di bale banjar, sekolah, kantor, pura yang disungsung masyarakat luas (khayangan tiga, khayangan jagat, sad khayangan, dll.) ataupun tempat umum lainnya. Jika itu tetap kita paksakan (dalam kondisi tersebut), mungkin ini akan menimbulkan banyak polemik dan masalah nantinya. Namun, dalam hal ini penggunaan tirtha kawitan pande lah yang harus tetap digunakan, karena tirtha ini yang menjadi poin pokok menyelesaikan segala permasalahan terkait bhisama keempat.  

Babad Pande Tista

Isi Singkat Babad Pande Tista






Setelah De Bandesa Kaywan yang mempunyai seorang istri yang bernama Ni Luh Kaywan yang meninggal dalam usia muda. De Bandesa sangat sedih lalu datanglah seorang Brahmana dari Daerah Kling yang bernama Danghyang Kanaka. Seorang Brahmana (Danghyang Kanaka) kemudian mengawini putrinya De Bandesa serta melahirkan Sira Mas dan Pangeran Manokling.
Diceritakan Pangeran Kayu Mas setelah dewasa menjadi seorang pandai besi yang sangat terkenal di Desa Kayu Mas. Kemudian Dang Hyang Kanaka kembali ke Jawa, sebelumnya beliau sempat memberikan ajaran-ajaran (swadharma) seorang pandai besi. Kakeknya Pangeran Kayu Mas yang bernama De Bandesa Kaywan ketika meninggal dibuatkan upacara dengan menggunakan bade bertingkat 5 dan patulangan (tempat jasad ketika upacara Ngaben) berwujud seekor Gajah.
Setelah selesai upacara kakeknya, Pangeran Mas kawin dan mempunyai 3 orang putra bernama Sira De Kayu Mas, menjadi pandai di Daerah Badung, dan putranya yang kedua tidak melaksanakan swadharma ayahnya tetap tinggal di desa Kayu Mas.
Tentang asal-usul dari De Bandesa Kaywan adalah mulai dari Sanghyang Pamaca kawin dengan putri Empu Bahula yang bernama Dewi Dwaranjika. Dalam perkawinan itu lahirlah Empu Wira Dharma dan Sira Mpu Pamacekan, Sira Mpu Pamacekan kawin dengan Ni Ayu Subrata melahirkan lah Sang Arya Pamacekan. Sang Arya Pamacekan kawin dengan putri Ki Gusti Kapasekan yang bernama Ni Gusti Luh
Pasekan dan melahirkan I Gusti Bandesa Kaywan.

Diceriterakan Ida Mas beristri dan mempunyai 3 orang putra yang mengadakan adanya Pande Besi. Adik dari De Kayu Mas mengungsi ke Dukuh Sni, setelah lama di sana lalu pindah ke Gelgel dan tunduk kepada Ki Gusti Mambal yang menurunkan Pande Kamasan, Ki Gusti Sakti pindah dari Gelgel dan beliau mendirikan rumah di Desa Mambal yang diiringkan oleh para Arya seperti Pangeran Sukahet, I Gusti Lambing, I Gusti Bondalem, I Gusti Sudataya dan I Gusti Kamasan keturunan Bandesa Gelgel. Juga diceriterakan Ki Gusti Ngurah Mambal Sakti pindah dan mendirikan istana di Desa Sibang Selatan yang diberi nama Puri Ngurah. Ida Peranda Mambal membangun istana di Geria Lalangon, I Pande Kamasan ikut pindah ke Sibang.
Kemudian dikatakan putra Ida Padanda Mambal yang bernama Ida Ketut Manuaba pindah dari Sibang, pindah/ mengungsi ke Swanegara Jembrana yang diiringkan oleh turunan I Pande Kamasan yang datang dari Panarukan. Ki Pande mengungsi ke Desa Tista Kerambitan.

Nama/ Judul Babad :
Babad Pande Tista
Nomor/ kode :
Va. 4713, Gedong Kirtya Singaraja
Koleksi :
Kakiang Dayu Putu Muliani.
Alamat :
Geria Gede Panarukan. Kecamatan Kerambitan, Tabanan
Bahasa :
Jawa Kuna
Huruf :
Bali
Jumlah halaman :
6 lembar.
Ditulis oleh :
Sagung Putri

Benarkah Perkawinan Beda Soroh Menyebabkan Kepanesan?

Om swastyastu ratu nak Lingsir.
Tiang meduwe pitaken.
Tiang pernah dengar tentang perkawinan beda soroh yang menyebabkan kepanesan.
Jakti nike kalau wanita pande menikah dengan pria pasek harus metebus ke pande.
Matur suksma nak lingsir mangda dijawab. +6283119436xxx
Ini adalah cara pandang keluarga atau Kula Drestha.
Namun pada hakikatnya, tidak ada perkawinan soroh.
Tapi terlanjur kita di Bali diberikan pemahaman serampangan.
Kalau tidak dilakukan seperti ini, maka akibatnya akan seperti itu dan seterusnya.
Kasus ini hanya masalah keyakinan saja.
Sebuah keluarga jika memiliki status maka naiklah daya tawarnya.
Saat itu akan terjadi banyak simbol-simbol yang harus dipenuhi untuk sebuah perkawinan.
Namun kembali ke pikiran.
Jika pikiran kita terus dihantui atau dibayang-bayangi ketakutan, maka bisa jadi hal itu menjadi nyata.
Apabila dengan jalan upacara penebusan merasa tenang, silakan saja lakukan. (*)

Pengetahuan kecil tentang soroh PANDE

Sekali-sekali saya selaku penulis seluruh isi blog ini pengen juga ber-Narzis-ria, satu hal yang jarang saya lakukan belakangan ini, sejak dikritik oleh seorang rekan kantor yang kini jadi malas berkunjung lantaran Narzis tadi itu. 
Tentu saja postingan ini bakalan berlanjut ke posting berikutnya yang isinya jauh lebih Narzis. Mohon untuk dimaklumi.
***
penataran.jpg
PANDE merupakan salah satu dari empat soroh yang terangkum dalam Catur Lawa (empat daun teratai) Pasek, Pande, Penyarikan dan Dukuh- yang memiliki keahlian dalam urusan Teknologi dan Persenjataan.
Ini bisa dilihat eksistensi pura masing-masing di Besakih, yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda dalam berbagai kegiatan Ritual dan Spiritual. Dimana Pura Pasek menyediakan dan menata berbagai keperluan upakara, Pura Pande menata segala peralatannya. Pura Penyarikan menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur. Sedangkan Pura Dukuh Sakti sebagai penata berbagai keperluan sandang pangan, baik yang sakral maupun yang biasa, yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan kegiatan ritual dan spiritual di Pura Besakih.
Menurut cerita lain, mengungkapkan bahwa PANDE merupakan salah satu dari beberapa putra yang dimiliki oleh satu leluhur (penglingsir) di Bali, dimana para putra inilah yang nantinya menjadi cikal bakal soroh yang ada di Bali (bukan kasta atau wangsa). Dimana masing-masing putra Beliau ini memiliki keahlian yang berbeda, itu sebabnya pula ada perbedaan dari isi banten, doa maupun tirtanya.
Sehingga seorang pedanda (dari soroh ida bagus) tidak boleh memberikan tirta untuk hal2 “kepandean” ke soroh PANDE, karena soroh Pande memiliki pedanda sendiri yg bergelar Sri Empu dengan penyupatan tersendiri bagiumatnya, begitu sebaliknya di soroh yg lain.
PANDE sendiri tidak termasuk dalam Catur Warna (belakangan berkembang disebutkan menjadi Catur Wangsa), yang merupakan empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan itu adalah: Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra.
Dalam perjalanannya, soroh PANDE sangat jarang ditemui berebut mengganti nama atau sorohnya tersebut menjadi soroh lain, misalkan saja ada kasus yang menyebutkan bahwa salah satu soroh PANDE, berkembang mengganti atau menamakan keturunannya dengan Ngakan, I Dewa, Anak Agung atau I Gusti.
Di Denpasar, Tabanan dan Singaraja sudah biasa bahwa satu soroh dengan nama depan I Gusti, memiliki keturunan yang diubah menjadi AA (Anak Agung) sebagai nama depan. Bahkan ada juga I Dewa jadi AA dan yang AA menambah gelar Ida sehingga menjadi Ida AA.
Hal ini kabarnya merupakan satu keminderan pada soroh sendiri sehingga akan jadi jauh lebih PeDe jika memakai nama soroh lain. Tentu jauh berbeda dengan soroh PANDE yang dikenal sangat bangga dengan nama depannya tersebut sehingga tetap dipakai pada keturunannya sendiri. Bahkan ada juga yang memakaikannya sebagai nama Blog.

Sedikit Cerita tentang Tulisan ber-Tema Keris (dan Bhisama)

Dalam dua minggu terakhir tulisan yang dipublikasikan pada blog PanDeBaik seakan diselimuti aura Keris sampai-sampai beberapa teman yang rajin menyambangi blog satu persatu meng-sms saya ‘sejak kapan PanDeBaik berpindah tema ? dari yang biasanya melulu tentang teknologi ponsel kini malah lebih mengarah pada budaya bangsa ini… Keris.
Seperti halnya yang pernah saya ungkap dalam update status jejaring sosial FaceBook akhir Juli lalu, terkait tulisan bertemakan Keris (dan Bhisama) yang dipublikasikan sejak awal Agustus, murni saya dedikasikan sebagai pembelajaran atau tambahan pengetahuan bagi Generasi Muda Warga Pande, dalam rangka DharmaWacana tentang keris dan Bhisama di Museum ‘Keris’ Neka, Sanggingan, Ubud, Gianyar.
Adapun terkait DharmaWacana tersebut diselenggarakan sebagai awal proses pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berorganisasi dan bersosialisasi bagi Teruna Teruni Generasi Muda Warga Pande di tingkat Kabupaten dan Kota. Sebagai pilot project, sementara waktu kami mengambil opsi dikhususkan pada kotamadya Denpasar dan Kabupaten Badung saja.
Lantas kenapa harus ‘Keris ? ini terkait lagi dengan kunjungan pertama kami ke Museum ‘Keris’ Neka pada tanggal 18 Juli 2010 lalu yang jujur saja menyisakan banyak pertanyaan di pikiran saya sebagai salah satu dari generasi muda (meskipun sudah berstatus menikah) warga Pande. Apalagi kalau bukan terkait apa itu keris, bagaimana proses pembuatannya, nilai-nilai dan makna yang terkandung hingga terkait puluhan keris koleksi milik Museum Neka, dari mana saja asalnya, apakah ada sejarahnya, siapa pembuatnya dan masih banyak lagi.
Sambutan yang diberikan kepada kami sangat jauh dari rencana awal yang sedianya hanyalah untuk menyampaikan keinginan dan memastikan Pande Wayan Suteja Neka berkenan menerima dan berbagi pengetahuannya saat Dharmawacana kelak. Mendengarkan dan menyaksikan secara langsung hingga berkeliling di Museum merupakan pengalaman baru bagi kami semua.
Bersyukur Uwe Suteja Neka (demikan saya memanggil Beliau) berkenan memberikan bekal literatur yang sekiranya dapat kami pelajari ketika pulang dari Museum. Dari literatur tersebutlah tulisan-tulisan yang bertemakan Keris itu berasal. Dua alasan mengapa tulisan-tulisan yang bertemakan Keris saya publikasikan lewat blog adalah pertama, isi dari tulisan tersebut terlalu berharga untuk saya ketahui seorang diri dan mengingat visi dari blog PanDeBaik adalah berbagi pengetahuan dan pengalaman maka tidak ada salahnya tulisan tersebut saya tuangkan disini. Sedang Kedua, terkait profesi sampingan saya sebagai blogger (dan memiliki media blog) ya satu-satunya yang dapat saya lakukan agar literatur yang diberikan Uwe Suteja Neka dapat lebih bermanfaat bagi kita semua adalah menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan.
Demikian pula halnya dengan tulisan terkait 6 (enam) Bhisama Warga Pande yang barangkali sangat disarankan untuk diketahui oleh setiap Semeton Warga Pande. Harapannya tentu saja agar saat Dharmawacana nanti akan ada satu pembelajaran tambahan untuk diketahui sebelumnya serta pemahaman yang seragam satu dan lainnya.
Hanya saja publikasi tulisan yang berasal dari literatur ini bukan bertujuan untuk mengeruk keuntungan secara komersial, namun (sekali lagi) hanya sebatas pembelajaran dan tambahan pengetahuan bagi generasi muda Warga Pande khususnya dan tentu saja kita semua umumnya. Bukankah indah jika kita semua sama-sama menyadari bahwa Keris (dan Bhisama bagi Semeton Warga Pande) adalah satu warisan budaya leluhur bangsa kita yang patut dijaga dan lestarikan ?